Wasior Dari Pemukiman Nelayan Menjadi Perkotaan

by Ir. Abdul Gafar Santoso

Wasior Dari Pemukiman Nelayan Menjadi Perkotaan

 

Banjir bandang yang begitu dahsyat telah meluluh-lantakan kota Wasior di Papua Barat beberapa waktu lalu. Bencana yang meratakan lebih dari 80% sarana dan prasarana kota Wasior itu juga telah menghilangkan ratusan nyawa manusia dan juga hewan-hewan ternak. Dari tayangan televisi yang disiarkan, “angel” nya hanya berkisar di kawasan pemukiman perkotaan. Andaikata terdapat tayangan yang diambil dari awal bencana di bagian hulu, pastilah kita semua memahami apa yang sebenarnya terjadi. Wasior seperti halnya kota-kota di dunia manapun umumnya dimulai dari pemukiman kecil penduduk. Pemukiman ini dapat di tepi sungai, dan dapat pula di mulai dari tepi pantai. Sebagaimana diketahui, sungai dan laut merupakan prasarana transportasi yang paling tua yang dikenal manusia. Selain itu, sungai dan laut juga merupakan gudang bahan makanan bagi manusia.

Wasior yang terletak di teluk Wondama sebenarnya cukup bagus untuk dapat berkembang lebih besar menjadi kawasan perkotaan. Akan tetapi kawasan perkotaan yang menghadap ke laut ini di belakangnya terdapat lereng yang cukup curam yang berjarak cukup dekat dengan pemukiman perkotaan. Seperti halnya kota yang berkembang secara alami dari pemukiman kecil, pastilah tidak ada studi tentang Analisa Dampak Lingkungannya untuk membangun perkotaan seperti Wasior ini. Semuanya tumbuh dan berkembang begitu saja sesuai dengan dinamika masyarakat.

Dalam perundang-undangan yang terkait dengan penataan ruang, kawasan pemukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik berupa kawasan perkotaan maupun pedesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat tempat kegiatan yang mendukung peri kehidupan dan penghidupan. Adapun kawasan perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.

Sementara itu, banjir yang terjadi pastilah terkait dengan aliran sungai yang ada di tempat itu. Berkaitan dengan daerah aliran sungai yang didefinisikan sebagai suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan, dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografis, dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan. Oleh karena itu, sangat diperlukan studi menyeluruh daerah aliran sungai yang bersangkutan untuk menentukan apakah Wasior akan dibangun kembali atau tidak.

Tanpa studi yang menyeluruh, pembangunan kembali kota Wasior akan berakibat terulangnya kembali kejadian banjir bandang yang mengerikan itu. Penetapan zonasi daerah aliran sungai (DAS) ke dalam kawasan lindung, kawasan budidaya, dan kawasan pemukiman masih harus di dukung dengan kelengkapan-kelengkapan pengamanan DAS, baik yang berupa bangunan-bangunan sipil teknis (Bangunan Konservasi Tanah dan Air, misalnya Teras, Talud, DAM Pengendali, DAM Penahan, dan lain-lain), maupun Vegetatif.

Dari gambaran yang telah terjadi, nampak bahwa telah terjadi longsoran (landslide) yang ditandai dengan tercerabutnya pohon-pohon dan batu-batu besar. Landslide ini pada umumnya tidak terkait dengan gundul tidaknya suatu kawasan. Landslide terjadi akibat terbentuknya konsentrasi air di antara lapisan tanah. Karena beban tanah lapisan atas, ditambah dengan material berupa pohon-pohon, batu-batu, dan sebagainya membuat tanah yang berada di atas konsentrasi air tersebut runtuh. Makin curam lerengnya dan makin besar material yang longsor, maka akibatnya juga akan semakin besar.

Kejadian tanah longsor di Jepang umumnya terjadi di kawasan dengan tutupan hutan klimaks yang rapat. Hal ini terjadi karena hutan yang klimaks memiliki kemampuan mengisap air dalam tanah ke daerah penyerapan akar-akar pohon. Akibatnya, terjadi konsentrasi air di zona penyerapan akar. Apabila terjadi hujan yang deras, maka zona penyerapan akar tersebut menjadi jenuh, dan akibatnya, benjir serta longsor pun menjadi lebih mudah terjadi.

 

Berkaca pada kejadian-kejadian tersebut, maka pembangunan kawasan perkotaan seperti Wasior sebaiknya agar berhati-hati. Jarak antara permukiman dengan lereng terjal yang terlalu pendek harus diwaspadai. Oleh karena itu pembangunan pusat-pusat permukiman baru harus didukung analisa AMDAL yang benar dan bertanggung-jawab.

Semoga kita semakin arif mengelola lingkungan hidup kita.

 

Pekanbaru, medio Oktober 2010

 

(Ir. Abdul Gafar Santoso)